jawaban diskusi ski
1. Mengapa Kita Perlu Memahami Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia?
Kita perlu memahami sejarah pondok pesantren di Indonesia karena pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua dan asli Indonesia yang memiliki peran sangat signifikan dalam:
* Penyebaran dan Pembentukan Corak Islam Nusantara: Pesantren merupakan salah satu saluran utama penyebaran Islam di Indonesia dan membentuk corak Islam yang khas, toleran, dan sinkretis dengan budaya lokal.
*Perjuangan Kemerdekaan: Banyak ulama dan santri dari pesantren yang terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajah, baik secara fisik maupun intelektual.
*Pembentukan Karakter Bangsa: Pesantren mengajarkan nilai-nilai keagamaan, kemandirian, kedisiplinan, dan moral yang menjadi dasar penting bagi pembangunan karakter bangsa.
* Pemahaman Identitas Budaya dan Keagamaan: Memahami sejarahnya membantu kita memahami akar kebudayaan, tradisi keilmuan Islam, dan identitas keagamaan masyarakat Indonesia.
2. Apa Tujuan Mempelajari Pondok Pesantren yang Ada di Berbagai Wilayah Indonesia?
Tujuan utama mempelajari pondok pesantren yang ada di berbagai wilayah Indonesia adalah:
* Memahami Keragaman dan Kontribusi: Untuk memahami keragaman metode, sinkronisasi, dan kontribusi pesantren terhadap masyarakat di setiap daerah, yang seringkali mencerminkan kebutuhan sosial dan budaya lokal yang berbeda.
* Melihat Adaptasi Lokal: Untuk mengidentifikasi bagaimana Islam diinstitusionalisasikan dan beradaptasi dengan konteks sosial-budaya dan geografis yang berbeda di seluruh nusantara.
* Menghargai Kearifan Lokal: Untuk menghargai kearifan lokal yang terintegrasi dalam sistem pendidikan dan tradisi pesantren di berbagai daerah (misalnya, perbedaan antara pesantren di Jawa, Sumatera, atau Kalimantan).
3. Apa Manfaat Mempelajari Berbagai Pondok Pesantren di Indonesia?
Manfaat mempelajari berbagai pondok pesantren di Indonesia meliputi:
* Wawasan Kebangsaan: Menambah wawasan tentang kekayaan budaya dan pendidikan Islam Indonesia, serta perannya sebagai perekat persatuan bangsa dalam keberagaman.
* Inspirasi Inovasi Pendidikan: Memberikan inspirasi untuk inovasi dalam pendidikan saat ini dengan memadukan tradisi keilmuan Islam (kitab kuning) dengan ilmu pengetahuan modern.
* Penguatan Moderasi Beragama: Memahami bahwa pesantren secara historis telah mengajarkan Islam wasathiyah (moderat), yang penting untuk menangkal ekstremisme dan radikalisme.
* Studi Komparatif Sosial: studi komparatif mengenai peran institusi pendidikan dalam pembangunan sosial dan ekonomi di berbagai wilayah.
4. Belajar dari Sejarah Proses Perkembangan Islam Melalui Saluran Pendidikan yang Merupakan Pencetak Kader Ulama. Apa yang Dapat Kalian Petik dari Fakta Sejarah Tersebut untuk Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Saat Ini?
Dari fakta sejarah bahwa pesantren adalah saluran pendidikan utama pencetak kader ulama, kita dapat memetik pelajaran penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, yaitu:
*Pentingnya Pendidikan Karakter dan Moral: Pendidikan harus tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, dan etika yang kuat (akhlakul karimah), seperti yang ditekankan dalam tradisi pesantren. Kader bangsa, baik di bidang politik, hukum, maupun sosial, harus memiliki integritas moral yang tinggi.
* Peran Ulama dan Cendekiawan dalam Kepemimpinan: Menyadari bahwa ulama (cendekiawan agama) dan kaum terpelajar adalah pemimpin dan panutan yang berperan penting dalam menjaga persatuan, stabilitas, dan arah moral bangsa. Mereka harus aktif berpartisipasi dalam solusi masalah kebangsaan.
* Sinergi Agama dan Nasionalisme : Mempertahankan dan memperkuat sinergi antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai nasionalisme (Hubbul Wathan Minal Iman). Sejarah pesantren membuktikan bahwa kecintaan pada tanah air adalah bagian dari ajaran agama.
*Kemampuan Beradaptasi (Integrasi Ilmu): Mencontohkan kemampuan pesantren untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum serta beradaptasi dengan tuntutan zaman, yang harus diterapkan dalam semua sektor pendidikan nasional untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten secara global namun diperlukan pada nilai-nilai lokal.
5. Pondok Pesantren Memiliki Corak Keislaman dan Keaslian Pendidikan Indonesia. Apa yang Dimaksud Corak Keislaman dan Keaslian Pendidikan Indonesia?
Corak Keislaman Indonesia
Yang dimaksud dengan corak keislaman Indonesia dalam konteks pondok pesantren adalah Islam Nusantara atau Islam Wasathiyah (Islam Moderat), yang disampaikan oleh:
* Toleransi dan Keterbukaan: Sikap toleran terhadap perbedaan dan keterbukaan terhadap budaya lain.
* Keseimbangan (Tawazun): Menekankan keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi, serta antara nash (teks agama) dan realitas kontekstual.
* Sinkretisme/Akulturasi Budaya: kemampuan untuk mengakulturasi nilai-nilai Islam dengan tradisi dan budaya lokal yang sudah ada, bukan menghilangkannya. Praktik seperti ziarah kubur, maulid Nabi, dan tahlilan adalah contoh akulturasi yang berkelanjutan.
* Tradisi Keilmuan Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja): Secara umum, pesantren menganut teologi Asy'ariyah/Maturidiyah, fikih mazhab Syafi'i, dan tasawuf Al-Ghazali/Junaidi Al-Baghdadi, yang dikenal sebagai jalur moderat dalam Islam.
Keaslian Pendidikan Indonesia
Yang dimaksud dengan keaslian pendidikan Indonesia pada pondok pesantren adalah:
* Sistem Pendidikan Asli: Pesantren adalah institusi pendidikan yang muncul dan berkembang di Indonesia tanpa meniru model asing secara langsung (walaupun ada pengaruh dari Hadramaut, Timur Tengah, dll., struktur intinya diperlukan lokal).
* Pola Kyai-Santri: Adanya ikatan batin dan pola hubungan karismatik antara pengasuh (Kyai) dan murid (Santri), di mana Kyai tidak hanya sebagai guru tetapi juga sebagai figur ayah, pembimbing moral, dan pewaris ilmu (sanad).
* Asrama (Bordir): Adanya tradisi bermukim (tinggal di asrama) yang memfasilitasi transfer ilmu, penanaman karakter, dan kemandirian selama 24 jam.
* Kurikulum Kitab Kuning: Kurikulum inti yang fokus pada pengkajian kitab-kitab klasik berbahasa Arab (Kitab Kuning) yang menjadi sumber utama transmisi keilmuan Islam tradisional secara berjenjang.
Comments
Post a Comment